Catatan Pinggir – Seno Gumira Ajidarma

                    Hak Asasi Binatang 

                                            seno.jpg

                                            Oleh : Seno Gumira Ajidarma

Kata Bapak Guru, binatang tidak berakal. Itulah sebabnya manusia yang berakal budi perlu mengembangkan akal budinya untuk menempatkan diri dalam sudut pandang binatang. Bagaimana kalau Anda baru enak-enak mencari makan ditangkap manusia dan disembelih atas nama peradaban mulia yang disebut beragama? 

Memang itulah pertanyaannya. Benarkah salah satu hak asasi manusia adalah membunuh makhluk lain, demi kelanjutan hidupnya sendiri secara spiritual dalam upacara agama, maupun secara jasmaniah dalam kehidupannya sehari-hari? Seorang anak kecil memegang kepala ayam goreng pada lehernya dan memainkannya seperti dalang. “Aku mungkin hidup lebih bahagia kalau kamu tidak sedang memakanku,” katanya. Ada cerita tentang surga bagi binatang dan tentu saja teori bahwa makhluk yang berperilaku baik akan lahir kembali dalam derajat lebih tinggi. 

Tentu ini memang hanya teori, yang juga akan terpertanyakan secara teoretik: “Apakah setelah menjadi makhluk tertinggi dan termulia lantas mempunyai hak berperilaku buruk, sehingga lahir kembali sebagai kuda, demi terpenuhinya suatu lingkaran sempurna?”  

Dengan segala kelebihannya, manusia ternyata belum lebih baik daripada binatang. Bahkan dengan segala kelebihannya itu, sampai detik ini, manusia masih menghalalkan pembunuhan – yang menjadi lebih parah karena mengatasnamakan segala kebaikan, dalam kesukuan, kebangsaan, bahkan sampai agama. Harapan macam apakah yang masih sahih kita miliki dalam dunia semacam ini? Bagaimana caranya kita menjadi lebih baik dari binatang, yang memang tidak pernah disalahkan jika saling membunuh demi kelanjutan hidup? 

Sudah waktunya kita mempelajari hak asasi binatang, karena menurut saya sedikit banyak akan menunjuk dan mempersoalkan hak asasi kita sebagai manusia juga, terutama bagaimana kita telah mempergunakan hak tersebut. Dalam dunia ilmu pengetahuan, misalnya, binatang sering dijadikan eksperimen, mulai dari uji coba obat sampai pesawat luar angkasa. Dalam uji coba itu binatang diandaikan tidak apa-apa kalau sakit, menderita, dan ujung-ujungnya mati. Pada abad XIX di Inggris berlangsung oposisi atas percobaan-percobaan semacam itu, sejauh jika binatang tersebut tidak disuntik antirasa atau anestesi. Sekarang, tanpa maupun dengan anestesi, pemanfaatan binatang untuk uji coba apa pun, ilmiah maupun komersial, ditolak – sampai ada pernyataan dalam salah satu merek botol shampoo, “Tidak Menggunakan Binatang Apa Pun untuk Uji Coba”.

Silahkan baca lengkapnya : catatan-pinggir-hak-asasi-binatang.pdf

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s


%d bloggers like this: