Catatan Pinggir – Ariel Heryanto

                                      Diskriminasi

308949.jpg

                                        Oleh: Ariel Heryanto

HARI gini bukan cuma polio dan busung lapar yang masih bercokol di Tanah Air. Undang-undang kewarganegaraan kita masih tersisa dari zaman gelap. Masih ada istilah orang Indonesia “asl” dan “tidak asli”. Dalam perkara kawin campur, perempuan secara turun-temurun menjadi korban ganasnya politik seksual negara yang berjenis kelamin pria.

Perjuangan gigih dan bertahun-tahun dari para aktivis perempuan mulai kelihatan hasilnya. Perlahan-lahan terjadi pencerahan di ruang DPR yang pernah nyaris menjadi arena tinju. Menurut kabar, sejumlah perundang-undangan bermasalah akan segera ditinjau parlemen. Hal ini juga berlaku untuk anak kawin campur secara kebudayaan atau agama. Anak-anak mereka mendapatkan pencerahan melihat dunia tidak dari satu dimensi. Itu sebabnya perkawinan di antara kerabat dekat dilarang di banyak adat. SEBAGIAN besar puncak-puncak peradaban umat manusia dihasilkan oleh bertemu dan berkawinnya manusia dari dua atau lebih peradaban yang sangat berbeda. Dan sebaliknya, sikap tertutup sebuah bangsa atau peradaban menjadi awal berlangsungnya krisis, kemacetan, dan ”bunuh diri” peradaban. 

Remaja Asia, termasuk Indonesia, telah menemukan seksualitas lebih santai dan pada usia lebih muda dibandingkan orangtuanya. Ini bukan perbedaan tingkat susila antargenerasi, tetapi perubahan sejarah teknologi.

 Ketika pornografi dicetak di atas kertas, ruang gerak pembuat dan pengecernya serba terbatas. Juga konsumennya, apalagi yang di bawah umur. Kalaupun berhasil mendapatkan, mereka harus mencuri-curi tempat dan waktu untuk membaca dan menyimpannya. Begitu rumitnya pornografi di atas kertas. Apalagi film biru yang butuh proyektor dan kamar gelap. Terus terang infotainment banyak penggemarnya. Tetapi, sesuatu yang paling digemari mayoritas bukan berarti sesuatu yang terbaik. Bandingkan dengan demokrasi yang juga mengistimewakan kekuasaan mayoritas. Presiden Bush terpilih lewat pemilihan umum yang demokratis. Juga Hitler. 

Ada banyak cara dan alasan mengapa orang tidak menyukai acara penyebar desas-desus dan rerasan ala infotainment. Tidak perlu dibeberkan  sekali lagi di sini. Pasti ada banyak cara dan alasan yang tidak kalah bagusnya mengapa banyak orang lain suka acara seperti itu. Ini bukan sekadar soal yang satu salah atau yang lain benar. 

Berpuluh-puluh tahun telah ada yang serupa-tapi-tak- sama “infotainment”. Mereka memasyarakat lewat media massa cetak dengan nama bermacam-macam. Ada rubrik berisi pengakuan panjang lebar tentang hal-hal yang sangat pribadi berdasarkan pengalaman sendiri. Kisah serupa juga disajikan sebagai rubrik “konsultasi” dengan ahli. Semua ini tempat banjir air mata dan curhat (curahan hati) dari orang-orang yang putus asa.

 Pengertian “jahat”, “kejahatan”, dan “penjahat” dipertaruhkan secara tajam di Indonesia dalam beberapa hari belakangan. Hal ini dipicu oleh serangkaian peristiwa yang secara kasatmata tidak berkaitan satu sama lain.

 ADA beberapa kesalahpahaman yang lumrah tentang ras dan rasisme. Pertama, rasisme telanjur diartikan semata-mata sebagai sikap membenci, merendahkan, menyerang pihak (ras) lain. Padahal, rasisme juga berwujud pujian, simpati, dan kasih sayang. Kedua, rasisme biasanya dianggap semata-mata bersifat membatasi, melarang, menyensor, atau memusnahkan.

Patut dicatat, rasisme juga berwujud tindakan mengadakan yang tidak ada, menyuburkan yang ada, membebaskan, mengarahkan, menerima, atau merangkul ras tertentu. Pandangan umum yang sangat dominan: Imlek itu milik orang-orang China. Kalau yang dimaksud dengan China itu negara-bangsa RRC, jelas hari itu tidak perlu dirayakan bangsa lain. Bila yang dimaksud dengan “China” itu sejumlah kelompok etnis, termasuk yang sudah menjadi bangsa Indonesia, mengapa tidak ada hari raya nasional untuk orang Indonesia dari etnis atau ras Arab atau India? Mengapa tidak juga ada hari besar untuk 300 etnis yang lain di Indonesia?

Ada pendapat, Imlek itu bagian dari sebuah tradisi atau kepercayaan keagamaan Buddha. Kalau demikian, tidak semua orang dengan etnis atau kebangsaan China merayakannya dan ada banyak orang non-Cina yang ikut merayakan. Sekitar 24 juta penduduk RRC beragama Islam dan 60 juta yang lain beragama Kristen. Penganut agama Buddha tersebar di berbagai penjuru dunia, menembus batas kebangsaan dan warna kulit.

Untuk sekadar diingatkan saja: etnisitas merupakan keputusan politik, seperti hari raya. Etnisitas bukan keturunan, seperti yang secara salah kaprah telanjur dipahami banyak pihak. Lebih parah lagi, etnisitas dicampuradukkan dengan kebangsaan. Maka, ada pembedaan warga negara pribumi dan nonpribumi dalam sebuah negara. Yang lebih runyam, etnisitas dan kebangsaan tertentu sering diidentikkan dengan agama dan ideologi tertentu.

Silahkan baca lengkap mengenai: Mahasia; Diskriminasi; “Tengkyu Ya” ; Kawin Campur; Porno; Indo-tainment; Jahat; Rasisme Tak Sengaja; Imlek dalam:catatan-pinggir-diskriminasi.pdf

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s


%d bloggers like this: