Catatan Pinggir – Mohamad Sobary

Menyikapi Sentimen Keagamaan Kita

mohamad_sobary.jpg 

                                                 Oleh: Mohamad Sobary

 Nasionalisme yang tak terkait dengan sentimen kesukuan, warna agama, dan sikap rasial dianggap pilihan taktis. Ia bisa mengatasi ketegangan sosial yang bersumber pada fanatisme kesukuan, agama, maupun rasial, yang pada masa itu dan juga sampai hari ini tetap masih menjadi persoalan kita.  

Wawasan para tokoh negara meratakan landasan berpikir bahwa, meskipun mungkin kita adalah pemeluk agama yang saleh, tak selamanya kita wajib bicara dalam konteks keagamaan. Tak berbicara perkara agama belum tentu mengurangi kesalehan kita.  

Itu semua menandakan kita kreatif berpikir mencari jawaban atas persoalan-persoalan hidup. Agama bukan cuma tak mengajari melainkan bahkan melarang kita bersikap klise, fanatik, dan taklid terhadap kemapanan wawasan.  

Pertanyaan dasar kita, saya kira, bagaimana mengembangkan wawasan budaya yang longgar, yang melandasi terbentuknya sebuah dunia sosial yang serba plural tanpa dihantui konflik dan aneka ketegangan yang merisaukan. Kita hendak menekankan pluralitas sebagai kekayaan — sesuai prinsip resmi perpolitikan kita: bhinneka tunggal ika — dan bukannya hambatan.  

Terbentuknya Negara Kesatuan Republik Indonesia jelas merupakan berkah politis bagi kita. Tapi, pluralitas di bidang agama sampai hari ini masih menampilkan wajah serba tegang, penuh persaingan, dan sikap saling curiga.  

Kerawanan hubungan antaragama di masyrakat kita mungkin menyenangkan yang gemar memolitikkan agama untuk kepentingan pribadi atau kelompoknya. Dan, kita tahu perpolitikan macam ini bukan cuma tidak sehat melainkan juga mematikan tafsir dan pemaknaan agama yang kaya, luas, dan dalam.  

Kita kemudian didorong ke sebuah dunia pemaknaan yang sempit, teknis, dan fanatik.  

Kita tak ingin terjebak jaring laba-laba pemikiran yang kita kembangkan sendiri. Agama, kita tahu, bukan jaring laba-laba. Agama memberi kita arah kehidupan, mengajari kebebasan, dan mengerahkan wawasan agar hidup kita serba-enak, nyaman, dan damai.

Silahkan baca mengenai tulisan  Kang Sejo Melihat Tuhan;KEMATIAN; Iman dan Tertib Sosial; PAK TUA TUKANG OJEK; Manusia dan Anjing; Doa dan Amal Nyata; Kesalehan, Pencuri, dan Polisi;Kandata; Hidup Syahid di : catatan-pinggir-menyikapi-sentimen-keagamaan.pdf

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s


%d bloggers like this: